
Berpartisipasi dalam acara Bandung Connecticity 2.0: “Bandung Connecticity for International Connecting”,lagi-lagi mahasiswa program studi Ilmu Administrasi Publik, Universitas Katolik Parahyangan kembali pulang membawa prestasi. Penghargaan baru yang didapatkan adalah pada ajang kompetisi Karya Tulis Ilmiah Inovasi Smart City Bandung District. 5 kelompok mahasiswa dari kelas Governansi Digital yang diampu oleh Ibu Tutik Rachmawati, masuk 10 besar dalam ajang karya tulis tersebut. Ajang ini diselenggarakan sebagai salah satu bentuk perwujudan Kota Bandung untuk bertransformasi menjadi kota pintar berkelas internasional, dengan berkolaborasi secara pentaheliks bersama berbagai stakeholder, tidak hanya dengan para akademisi dan praktisi pemerintahan, namun juga dengan media dan komunitas masyarakat, mengumpulkan ide-ide inovasi yang bersifat berkelanjutan untuk pembangunan smart city di Kota Bandung.


Andena Gracia, Anishakira, Fadia Aghnia, Zhafira Khairunnisa dan Krayon Ahmad sebagai salah satu kelompok yang mewakili mahasiswa Administrasi Publik UNPAR, membawa ide inovasi smart city untuk Kota Bandung, dan menjadi Juara Terbaik 1 pada kegiatan Bandung Connecticity 2.0. Ide muncul berawal dari pendapat mereka mengenai coffee shop semakin marak di kalangan masyarakat terutama para remaja. Menurut mereka, adanya fenomena tersebut malah menjadi ancaman buruk bagi lingkungan, hal ini dikarenakan rata-rata kemasan yang digunakan oleh coffee shop dalam penyajian produknya masih berupa kemasan plastik seperti sedotan, cupnya, dan juga kantong plastik yang digunakan untuk take-away.

“Nah, sebenarnya apa aja sih bahaya sampah plastik bagi bumi? Mari kita bahas! Sampah plastik ini dinilai menjadi salah satu polutan yang menyumbangkan sampah terbesar ke laut. Bila dibiarkan, hal ini akan mengakibatkan ketidakseimbangan pada ekosistem laut. Selain itu, karena sifatnya yang sukar untuk terurai secara alami, maka bertambahnya limbah plastik akan mengakibatkan sampah yang tertumpuk di TPA. Tertumpuknya sampah tersebut akan mengakibatkan pencemaran tanah yang dapat merusak kesehatan masyarakat yang tinggal disekitarnya. Melihat bahaya-bahaya yang telah disebutkan tadi, tentunya pengurangan dan pengontrolan penggunaan sampah perlu dilakukan,” ujar Andena dan tim.
Tentunya, permasalahan mengenai sampah ini dinilai sangat kompleks dimana satu solusi belum tentu bisa mengatasi permasalahan lingkungan ini. Kelompok perwakilan UNPAR yang disupervisi oleh Ibu Tutik Rachmawati ini, berpendapat bahwa diperlukan sinergitas antar stakeholders agar permasalahan tersebut dapat diselesaikan terutama pada sampah yang dihasilkan akibat membludaknya jumlah coffee shop di Kota Bandung. Peran aktif pemerintah dalam membuat jaringan pengelolaan dan pembatasan pemakaian limbah sehingga dalam mewujudkan sustainable living ini dianggap sangatlah penting agar tujuan yang telah ditetapkan bukan hanya sebagai angan-angan belaka.

Beragam inovasi yang mereka bagikan, yang pertama adalah mengunggah berbagai informasi mengenai bagaimanalimbah coffee shop di kota Bandung dapat memicu kerusakan lingkungan melalui instagram ‘Bandung Smartcity’ dengan konten yang berjudul konten “InDay – Info Sadayana”. Inovasi selanjutnya adalah seperti kampanye yang akan dilaksanakan oleh Pemerintah Kota Bandung, pemilik usaha, dan juga pengrajin dari pengolahan kembali limbah coffee shop. Melalui workshop tersebut, masyarakat akan mendapat materi mengenai pembuatan kerajinan dan juga olahan yang berasal dari limbah kopi itu sendiri. Dan inovasi terakhir dari mereka adalah penambahannya aplikasi BAZZER (Bandung Zero Waste Tracker) untuk mewujudkan gerakan “zero waste” di Kota Bandung.

“Apa Sih gunanya aplikasi ini? Aplikasi ini mempunyai fungsi untuk membantu pemerintah untuk tracking penggunaan plastik dan juga pengeluaran limbah yang dihasilkan per harinya dari setiap coffee shop dengan mewajibkan seluruh coffee shop untuk mendaftarkan usahanya ke dalam aplikasi BAZZER (Bandung Zero Waste Tracker). Setelah berhasil mendaftar, pemilik usaha wajib log-in untuk melaporkan seluruh hasil limbah hasil produksi (organik/anorganik) dan kemana limbah tersebut akan diproses (baik diolah atau dibuang). Dan di dalam aplikasi tersebut akan disertakan limit dari limbah yang dikeluarkan per harinya oleh setiap coffee shop. Jika ada coffee shop yang terindikasi menghasilkan limbah melebihi limit yang telah ditentukan, maka akan dikenakan denda dan juga sanksi. Namun, jika ada coffee shop yang berhasil menerapkan konsep dari “Zero Waste” maka coffee shop tersebut akan mendapatkan penghargaan,” pemaparannya.

Jadi dapat kita semua pahami, Bahwa aplikasi BAZZER itu sendiri merupakan sebuah ide Inovasi yang disalurkan menjadi sebuah Aplikasi dengan tujuan untuk mengurangi limbah plastik yang dihasilkan dari sisa-sisa produksi coffee shop di Kota Bandung. Dalam aplikasi tersebut, diharapkan menjadi sebuah upaya dalam membantu pemerintah untuk membatasi masyarakat dalam pemakaian plastik dengan melakukan tracking pengelolaan limbah plastik. Hal tersebut dilakukan untuk mewujudkan eco-living dengan para pemilik usaha kedai kopi dapat menggunakan bahan-bahan organik seperti penggunaan cup atau sedotan dari bahan yang mudah terurai oleh alam dari pada dari bahan bahan plastik. Aplikasi ini juga tentunya memberikan manfaat ketidakbergantungan serta meningkatkan kedisiplinan masyarakat terhadap penggunaan plastik, dimana masyarakat dapat ikut serta dalam pengawasan pengelolaan sampah kedai kopi di Kota Bandung. Kami merekomendasikan aplikasi BAZZER (Bandung Zero Waste Tracker) ini untuk Pemerintah Kota Bandung agar memudahkan kinerja pemerintah dalam hal pengelolaan sampah dan terwujudnya sustainable living.
Wajar saja jika Andena, Anishakira, Fadia, Zhafira dan Ahmad mendapatkan penghargaan sebagai Juara Terbaik 1 pada Lomba Inovasi Smart City Bandung District pada kegiatan Bandung Connecticity 2.0: “Bandung Connecticity for International Connecting”.
Andena Gracia Putri Subagiyo
Anishakira P.
Fadia Aghnia Sabrina
Zhafira Khairunnisa Az-Zahra
Krayon Ahmad Zulfikor


